SEJARAH PERKEMBANGAN SOSOLOGI
ANDARA RIYANI PUTRI
118090082
Sejarah Perkembangan Sosiologi. Sosiologi lahir sejak
manusia mulai bertanya tentang masyarakat, terutama tentang perubahannya.
Ratusan tahun sebelum Masehi, pertanyaan tentang perubahan masyarakat sudah
muncul. Namun, dalam pengertian sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir belasan
abad kemudian. Berikut ini kronologi sejarah perkembangan ilmu sosiologi.
1. Perkembangan Awal
Para pemikir Yunani Kuno, terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles,
beranggapan bahwa masyarakat terbentuk begitu saja. Masyarakat mengalami
perkembangan dan kemunduran tanpa ada yang bisa mencegah. Kemakmuran dan krisis
dalam masyarakat merupakan masalah yang tidak terelakkan. Anggapan tersebut
terus dianut semasa Abad Pertengahan (abad V Masehi sampai akhir abad XIV
Masehi). Para pemikir, seperti Agustinus, Avicenna (Ibnu Sina), dan Thomas
Aquinas menegaskan bahwa nasib masyarakat harus diterima sebagai bagian dari
kehendak Ilahi. Sebagai makhluk yang fana manusia tidak bisa mengetahui,
apalagi menentukan apa yang akan terjadi pada masyarakat. Pertanyaan (mengapa
bisa begini atau mengapa bisa begitu) dan pertanggungjawaban ilmiah (buktinya
ini atau itu) tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa itu.
2. Abad Pencerahan: Rintisan Kelahiran Sosiologi
Sosiologi modern berakar pada karya para pemikir Abad Pencerahan; abad XVII
Masehi. Abad itu ditandai oleh beragam penemuan di bidang ilmu pengetahuan.
Derasnya perkembangan ilmu pengetahuan membawa pengaruh terhadap pandangan
mengenai perubahan masyarakat. Pandangan itu harus juga berciri ilmiah. Artinya
perubahan yang terjadi dalam masyarakat harus dapat dijelaskan secara masuk
akal (rasional); berpedoman pada akal budi manusia. Caranya dengan menggunakan
metode ilmiah. Francis Bacon dari Inggris, Rene Descartes dari Prancis, dan
Wilhelm Leibnitz dari Jerman merupakan sejumlah pemikir yang menekankan
pentingnya metode ilmiah untuk mengamati masyarakat.
3. Abad Revolusi: Pemicu Lahirnya Sosiologi
Perubahan pada Abad Pencerahan membawa perubahan revolusioner sepanjang
abad XVIII Masehi. Perubahan itu dikatakan revolusioner karena struktur
(tatanan) masyarakat lama dengan cepat berganti dengan struktur yang baru.
Revolusi sosial yang paling jelas tampak dalam Revolusi Amerika, Revolusi
Industri, dan Revolusi Prancis, Ketiga revolusi itu berpengaruh ke seluruh
dunia. Hal ini wajar mengingat kawasan Asia dan Afrika ketika itu sedang
menjadi daerah koloni Eropa.
Pada Revolusi Amerika, koloni Inggris di Amerika Utaraini membentuk negara
republik yang demokratis. Pemerintahan jenis ini baru pertama kali muncul saat
itu, ketika kebanyakan negara membentuk pemerintahan monarki. Gagasan tentang
kedaulatan rakyat (rakyat yang berkuasa) dan pentingnya hak asasi manusia
(semua orang bermartabat sama) telah mengubah susunan serta kedudukan orang dan
kelompok dalam masyarakat.
Pada masa Revolusi Industri muncul kalangan baru dalam masyarakat, yaitu
kaum kapitalis yang memiliki modal untuk membuat usaha, serta kaum bangsawan
dan rohaniwan yang sebelumnya lebih berkuasa mulai disaingi kaum kapitalis yang
mengandalikan ekonomi. Kemudian, muncul kesadaran akan hak asasi manusia dan
persamaan semua orang di hadapan hukum yang mengakibatkan terjadinya Revolusi
Prancis. Pada saat itu, rakyat menggulingkan kekuasaan bangsawan yang dianggap
bersenang-senang di atas penderitaan rakyat lalu membentuk pemerintahan yang
lebih demokratis.
Revolusi-revolusi ini menyebabkan berbagai perubahan dan gejolak dalam
masyarakat. Tatanan yang telah berusia ratusan tahun dalam masyarakat
diobrak-abrik dan dijungkirbalikkan. Perubahan ini tidak jarang disertai
peperangan, pemberontakan, dan kerusuhan yang membawa kemiskinan dan kekacauan.
Karena itulah, para ilmuwan tergugah untuk mencari cara menganalisis perubahan
secara rasional dan ilmiah sehingga dapat diketahui sebab dan akibatnya.
Tujuannya, agar bencana yang terjadi akibat perubahan dalam masyarakat bisa
diantisipasi dan dihindari.